sajak empat harakat

Elantari. jika kau pernah membaca paragraf ini

tentu kau tahu tentang nasib seorang anak muda yang jatuh cinta pada senja:

jatuh bangun mencari dimana gerangan negeri itu sebenarnya

negeri yang dikepalanya penuh cahaya oranye dan matahari sepotong, persis seperti gambar oleh-oleh kartu pos dari negeri tempat kau menanam Sakura

anak muda itu, kini merana. persis di seberang menara dimana dulu ia mendengar ada gadis bernama Marina menari di atas menara.

Bacalah

Bacalah,
seperti kau menyebut deretan kata-kata asing saat kau sangat belia ;
terpatah-patah mengeja konsonan
tergelincir mengeja vokal
tanpa harakat,
dan nafas tersengal tanpa titik dan koma

Bacalah,
seperti kau mengeja tulisan mu sendiri di kaca-kaca bus yang penuh sesak sehabis hujan
barisan huruf dari campuran embun uap nafas mu
dan sedikit tetesan gerimis
: begitu rapuh dan buram hingga sulit kau kenali apa abjad yang tercetak disana

Bacalah,
seperti kala pertama kau terima surat ber cap pos sebuah nama kota - yang kau hafal diluar kepala seluk beluk jalan nya
Bacalah dengan perlahan
seperti dulu kau temukan potongan-potongan takdir mu
di sela-sela akhir kalamnya yang tercetak tajam:
dengan cinta

Diantara Jln. Raya Nusantara


Mungkin di sebuah jalan antara gajahmada dan nusantara
kau temukan ceceran dari surat-surat tanpa alamat.
Tak berpanjang kata
cuma;

selamatkan anakmuda, sejarah dan cinta

Padang hikayat

Kau kah itu yang merisik disebrang kabut?
bercerita tentang kembara di Dunia kata
Tempat yang, kata kau, penuh rahasia  dan lantunan hikayat tua penuh makna
Ajak aku juga.
Semenjak penuh dada ku dengan gemuruh isyarat tak menemu kalimat
 
Siapa berbisik di suatu subuh
Mengantarkan berita dari sebuah padang cerita
Tempat hewan dan petani berhikayat sama serunya
Tempat bibit di semai dengan pengantar cerita penuh gelora
Ajak aku segera,
melihat pohon-pohon berbuah kata
meni’mati sambil mencatat menjadi gurindam dan sajak yang kau suka
 
Km, 47.4 Cibinong

Akhir Februari

Sudah mau akhir februari, tapi hujan masih turun
kau mengambil payung dan pergi kejalan raya
apa yang kau dapat hari ini?
kau bimbang antara menantang hujan atau tiarap dikesuyian.
rinai-rinai hujan tampias dipipimu, kau pergi juga

ini musim hujan penghabisan sebut ramalan cuaca
di monitor komputer sebuah warung surat elektrik kau masih mengetik rindu
tentang hujan yang berdegup kencang
tentang kenangan bertarung dendam
tentang lelah diantara bayang-bayang yg memanjang

bgr feb 04

Cemara 2

Ku lukis cemara hijau dgn ranting coklat.Saat jadi, tupai-tupai berdatangan

Dari hutan sembarang.

Mengumpulkan buah-buahnya

Menyimpannya dalam lubang-lubang di bawah tanah.

Tupai mungil itu terlalu banyak menimbun. Lantas terlupa.

Kini lukisan itu penuh dengan cemara-cemara muda.

Aku tak lupa lukisan cemara pertamaku. Tapi yang mana?

Angin: sebuah pengantar

Angin dingin datang dari negeri angin.

Membawa bergumpal-gumpal cerita yang bagimu begitu asing

begitu dingin

Angin dingin yang datang cepat

Menabrak pohon-pohon, lari kedalam ruangan  merunduk dibawah kursi

menyapamu:

‘Selamat malam gadis. Maaf, apakah aku datang begitu awal?’

Kau menarik resluiting jacket lebih keatas,  sembari menjawab salam:

“Apa kabar? Kenapa hari ini begitu dingin?”

langkah

Kau tak perlu percaya atas semua penyesalan yang tumpah disini

Seperti kau tak harus percaya pada awan alto-cumulus di ketinggian :

karena toh awan ini nyaris tak pernah menurunkan hujan apapun kecuali awan bergumpal-gumpal.

 

Jikapun kita nanti berpamitan dan aku berpetualang hingga ke negeri gerimis sekalipun, yakinlah.

Tak ada tangisan yang perlu kau simpan dibalik bantal:

karena perpisahan, toh seperti mengunci pintu pagar di pagi hari

dan membukanya di malam hari

saat aku pulang nanti.

pertemuan kecil

dari pertemuanpertemuan kecil, kita menulis sejarah

seperti pemupang di peron kereta stasiun. kenangan menggumpal dan kadang menghilang begitu saja

ada kalanya kita sisipkan sedikit catatan diantara pertemuan itu,

sekadar penanda agar tidak alpa. agar tidak lupa manakala dilain waktu, sejarah datang lagi menghampiri.

disebuah lorong dalam memori, kita siapkan rakrak penuh laci

sebuah katalog dan catatan yg  ditulis rapi.

mungkin kita kenali aroma pahit dari sejarah yang berkubang getir

atau rasa teramat manis dari cerita lampau yang penuh elegi.

betapapun juga rasa hambar yang kita nikmati,

 ia energi. yang kadang berubah bentuk menjadi senyum tipis

dan sedikit air yang menggumpal di pelupuk mata

Rain on the verandah

Hujan yang rintik satu-satu di depan beranda
seperti irisan croissan ketika Ia memotongnya untuk sarapan pagi.
Remah-remah roti yang jatuh bahkan seperti
potongan hari yang tanggal di meja kerja dimana
Ia membayangkan sebuah hujan
Hujan yang datang dengan sebongkah pelukan hangat

Ia masih ingin melihat hujan sebenarnya
sembari membayangkan bilakah memotret hujan kedalam huruf-huruf diatas kertas kerja
atau di layar monitor kerja?
Ia ingin sekali jika Ia bosan ia bisa menyantap sepuasnya ber-ratus-ratus hujan rintik yang jatuh dari langit
Mungkin Ia bayangkan bersama hujan yang jatuh dari langit itu, ada muncul ksatria dari negeri kabut membawa pelukan hangat
atau segelas coklat hangat untuk dinikmati berdua,sambil menatap hujan tentu saja.

Tetapi Ia takut. Takut makin tenggelam dalam negeri khayalan yang Ia ciptakan sendiri.
Konon, Ia sering sekali tertidur lalu bermimpi bertemu seseorang berjubah yang tak pernah bisa Ia lihat bagaimana wajahnya, kecuali silhuet nya yang tercetak jelas di timpa cahaya senja yang kemerahan. Dan Ia tahu sesorang berjubah itu begitu tampan namun penuh rahasia.  Ah.. ksatria berjubah, dimana engkau tinggal?

Di luar masih hujan. Tapi Ia sudah bersiap pergi.
Pintu pagar berwarna hitam itu berderit terbuka.

Seseorang bergegas keluar  memakai raincoat biru.
Menengadah ke atas dan perlahan pergi ke arah utara.
Di wajahnya seperti tertulis catatan:

bosan di tunggu!

Next Page »