Sonett-XX

sudah berapa patah kata usang ku kirim
dan ku hentikan sekian tahun silam
Dia meminta demikian .karena katanya “itu cuma bikin buram kaca jendela ruang tamu saja.

Akhirnya ku beranikan mengirim sekian tulisan baru berbentuk buku mungil semacam novel
Entah,
Ia kemudian mengirim salam dari sebuah surat elektronik
” Terima kasih untuk kata-kata-nya.
Beranda rumah ku kini nampak lebih teduh agaknya”

dari negeri seberang

Selamat pagi.
Ada salam untukmu dari burung pipit yang biasa bernyanyi
dan bersitingkap di dahan jambu.
Seharusnya kau ada pagi ini,
ia bernyanyi bagus sekali. Berceracau manis,
tembang tentang rumput-rumput
dan bunga-bunga jambu yang berguguran.

Burung pipit bersahabat dengan waktu.
Setiap pagi dan petang yang memanjang.
Ia bersahabat dengan sunyi,
bahkan jika kita penghuni di sini sudah pergi
dan meninggalkan pintu pagar yang berkarat.

Ia bersahabat dengan siapapun.
Kucing, dedaunan, dan reranting pohon.
Membangun sarang yang hangat dan mengajarkan anak-anaknya
mencintai alam.
mengajarkan bernyanyi dengan cericit nakal;
sehingga kami, terbangun dan mengunyah pagi
dengan seribu pertanyaan tak berkesudah di kepala

Burung pipit. Meninggalkan salam untukku.
Sungguh!
Mungkin ia satu dari jenis yang berpetualang hingga
ke negeri-negeri seberang, dan menemukanmu sedang duduk
di tebing karang atau di pantai yang lengang.
Katanya padaku:
Ada seorang gadis,
memandang laut dan bersahabat debur ombak
sedang menulis surat dan memandang senja dengan mata yang berat.
Di sana, di sebuah negeri tempat senja istirahat.
Sekilas saya melihat, ada nama Tuan ditulis dalam alamat.
Tunggulah, mungkin Tuan akan terima surat dari Gadis itu kemudian.

Ah, Benarkah engkau yang santai di sebuah pantai
Atau Pipit itu salah melihat?

Sungguh. Pagi ini Pipit-Pipit bernyanyi jenaka sekali.
Antara nyanyinya,
terpaut syair tentang duka dan keceriaan berpetualang.
Antara rimanya,
ada sajak tentang rindu yang berjarak.

sajak empat harakat

Elantari. jika kau pernah membaca paragraf ini

tentu kau tahu tentang nasib seorang anak muda yang jatuh cinta pada senja:

jatuh bangun mencari dimana gerangan negeri itu sebenarnya

negeri yang dikepalanya penuh cahaya oranye dan matahari sepotong, persis seperti gambar oleh-oleh kartu pos dari negeri tempat kau menanam Sakura

anak muda itu, kini merana. persis di seberang menara dimana dulu ia mendengar ada gadis bernama Marina menari di atas menara.

Bacalah

Bacalah,
seperti kau menyebut deretan kata-kata asing saat kau sangat belia ;
terpatah-patah mengeja konsonan
tergelincir mengeja vokal
tanpa harakat,
dan nafas tersengal tanpa titik dan koma

Bacalah,
seperti kau mengeja tulisan mu sendiri di kaca-kaca bus yang penuh sesak sehabis hujan
barisan huruf dari campuran embun uap nafas mu
dan sedikit tetesan gerimis
: begitu rapuh dan buram hingga sulit kau kenali apa abjad yang tercetak disana

Bacalah,
seperti kala pertama kau terima surat ber cap pos sebuah nama kota - yang kau hafal diluar kepala seluk beluk jalan nya
Bacalah dengan perlahan
seperti dulu kau temukan potongan-potongan takdir mu
di sela-sela akhir kalamnya yang tercetak tajam:
dengan cinta

Diantara Jln. Raya Nusantara


Mungkin di sebuah jalan antara gajahmada dan nusantara
kau temukan ceceran dari surat-surat tanpa alamat.
Tak berpanjang kata
cuma;

selamatkan anakmuda, sejarah dan cinta

Padang hikayat

Kau kah itu yang merisik disebrang kabut?
bercerita tentang kembara di Dunia kata
Tempat yang, kata kau, penuh rahasia  dan lantunan hikayat tua penuh makna
Ajak aku juga.
Semenjak penuh dada ku dengan gemuruh isyarat tak menemu kalimat
 
Siapa berbisik di suatu subuh
Mengantarkan berita dari sebuah padang cerita
Tempat hewan dan petani berhikayat sama serunya
Tempat bibit di semai dengan pengantar cerita penuh gelora
Ajak aku segera,
melihat pohon-pohon berbuah kata
meni’mati sambil mencatat menjadi gurindam dan sajak yang kau suka
 
Km, 47.4 Cibinong

Akhir Februari

Sudah mau akhir februari, tapi hujan masih turun
kau mengambil payung dan pergi kejalan raya
apa yang kau dapat hari ini?
kau bimbang antara menantang hujan atau tiarap dikesuyian.
rinai-rinai hujan tampias dipipimu, kau pergi juga

ini musim hujan penghabisan sebut ramalan cuaca
di monitor komputer sebuah warung surat elektrik kau masih mengetik rindu
tentang hujan yang berdegup kencang
tentang kenangan bertarung dendam
tentang lelah diantara bayang-bayang yg memanjang

bgr feb 04

Cemara 2

Ku lukis cemara hijau dgn ranting coklat.Saat jadi, tupai-tupai berdatangan

Dari hutan sembarang.

Mengumpulkan buah-buahnya

Menyimpannya dalam lubang-lubang di bawah tanah.

Tupai mungil itu terlalu banyak menimbun. Lantas terlupa.

Kini lukisan itu penuh dengan cemara-cemara muda.

Aku tak lupa lukisan cemara pertamaku. Tapi yang mana?

Angin: sebuah pengantar

Angin dingin datang dari negeri angin.

Membawa bergumpal-gumpal cerita yang bagimu begitu asing

begitu dingin

Angin dingin yang datang cepat

Menabrak pohon-pohon, lari kedalam ruangan  merunduk dibawah kursi

menyapamu:

‘Selamat malam gadis. Maaf, apakah aku datang begitu awal?’

Kau menarik resluiting jacket lebih keatas,  sembari menjawab salam:

“Apa kabar? Kenapa hari ini begitu dingin?”

langkah

Kau tak perlu percaya atas semua penyesalan yang tumpah disini

Seperti kau tak harus percaya pada awan alto-cumulus di ketinggian :

karena toh awan ini nyaris tak pernah menurunkan hujan apapun kecuali awan bergumpal-gumpal.

 

Jikapun kita nanti berpamitan dan aku berpetualang hingga ke negeri gerimis sekalipun, yakinlah.

Tak ada tangisan yang perlu kau simpan dibalik bantal:

karena perpisahan, toh seperti mengunci pintu pagar di pagi hari

dan membukanya di malam hari

saat aku pulang nanti.

Next Page »